Rabu, 01 Juni 2011

Raja Bone ke-33

Silsilah

La Pabbenteng adalah anak dari Baso Pagilingi Abdul Hamid, Petta Ponggawa Bone yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Bulu Awo perbatasan Siwa dengan Tanah Toraja dengan isterinya We Cenra Arung Cinnong. Sedangkan Baso Pagilingi Ponggawa Bone adalah anak dari La Pawawoi Karaeng Sigeri MatinroE ri Jakarta, Arumpone ke 31.

Masa Pemerintahan

La Pabbenteng Petta Lawa Arung Macege menjadi Mangkau’ di Bone yang diangkat oleh NICA (Nederland Indiche Civil Administration), suatu organisasi baru yang dibentuk oleh Belanda dan sekutunya yang bertujuan untuk berkuasa kembali di Indonesia. Padahal Bangsa Indonesia telah memperoklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945 oleh Sukarno-Hatta.

Setelah La Mappanyukki berhenti menjadi mangkau’ di Bone, maka tidak ada lagi putra mahkota yang dapat menggantikannya kecuali La Pabbenteng Petta Lawa Arung Macege. Oleh karena itu, NICA mengangkatnya menjadi Arumpone atas persetujuan anggota Ade’ Pitu-E Bone menggantikan La Mappanyukki Datu Malolo ri Suppa.

Sebelum diangkat menjadi Mangkau di Bone, La Pabbenteng memang selalu dekat dengan NICA dan selalu bersama-sama apabila NICA bepergian. Oleh karena itu dia diberi pangkat kemiliteran yaitu Kapten Tituler. Setelah diangkat menjadi Mangkau’ Bone, pangkatnya dinaikkan menjadi Kolonel Tituler.

Pada waktu La Mappanyukki akan diangkat menjadi Mangkau’ di Bone, salah seorang anggota Hadat Tujuh Bone yang menolaknya adalah La Pabbenteng Arung Macege. Karena menurutnya dia lebih berhak untuk menduduki akkarungengE ri Bone sebab dialah yang paling dekat dengan La Pawawoi Karaeng Sigeri MatinroE ri Jakarta. Akan tetapi sebelum Perang Dunia II La Pabbenteng memperbuat kesalahan di Bone yaitu membunuh sepupunya yang bernama Daeng Patobo. Oleh karena itu, Gubernur Belanda bersama Hadat Tujuh Bone memutuskan untuk mengasingkan La Pabbenteng. Setelah datang Jepang, barulah La Pabbenteng kembali dari pengasingannya.

Ketika ia diasingkan, kedudukannya sebagai Arung Macege digantikan oleh La Pangerang Daeng Rani anak La Mappanyukki Datu Malolo ri Suppa Arumpone ke 32. Kedudukan itu berakhir setelah diasingkan oleh NICA ke Tanah Toraja bersama ayahnya La Mappanyukki karena pernyataannya yang tetap berdiri dibelakang Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Sukarno Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.

Pada saat La Pabbenteng menjadi Arumpone ia melengkapi perangkat pemerintahannya dengan mengangkat To Marilaleng La Maddussila Daeng Paraga menjadi MakkedangE Tanah. Selanjutnya La Sulo Lipu Sulewatang Lamuru diangkat menjadi To Marilaleng menggantikan La Maddussila Daeng Paraga.

La Pabbenteng kawin di Sidenreng dengan We Dala Uleng Petta Baranti, anak dari We Bunga dengan suaminya yang bernama La Pajung Tellu Latte Sidenreng. Cucu langsung Addatuang Sidenreng dari ibunya dan cucu langsung Arung Rappeng Addatuang Sawitto dari ayahnya.

Arumpone La Pabbenteng kemudian diperintahkan oleh NICA untuk mempersatukan arung-arung (raja-raja) di Celebes Selatan untuk membentuk organisasi yang bernama Hadat Tinggi. Organisasi ini diketuai sendiri oleh Arumpone La Pabbenteng dan wakilnya adalah La Ijo Daeng Mattawang Karaeng Lalolang. Hadat Tinggi itulah yang ditempati oleh Gubernur NICA untuk melaksanakan pemerintahannya di Celebes Selatan.

Pada masa pemerintahan La Pabbenteng di Bone, NICA mengadakan Komperensi Malino yang diprakarsai oleh Lt.G.Dj.Dr.H.J.van Mook, sekaligus sebagai pimpinan. Komperensi itu dihadiri oleh wakil-wakil dari Celebes, Sunda Kecil dan Maluku yang bertujuan membentuk suatu negara dalam negara Republik Indonesia yaitu Negara Indonesia Timur (NIT).

Pada tanggal 12 November 1948, Gubernur NICA di Ujungpandang menyerahkan kepada Arumpone La Pabbenteng untuk menjadi Ketua Hadat Tinggi dan memasukkan sebagai satu bahagian dari Negara Indonesia Timur. Namun bentukan NICA itu tidak berumur panjang, sebab pada tanggal 27 Desember 1949 Belanda menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia kepada Bangsa Indonesia. Selanjutnya terbentuklah Republik Indonesia Serikat dan bubar pulalah Hadat Tinggi bentukan NICA.

Dalam tahun 1950 La Pabbenteng mengundurkan diri sebagai Arumpone, dia berangkat ke Jawa bersama isterinya. Begitu pula anggota Hadat Bone, semua meninggalkan kedudukannya sebagai anggota Hadat Bone.

Sebelum Menjadi Raja

Foto : Duduk di dalam mobil adalah Andi Pabbenteng Dg. Palawa. Ketika itu menjabat Arung Macege (Anggota Adat Tujuh Kerajaan Bone). Berdiri paling ujung kanan ( dengan setelan jas putih kopiah hitam adalah Moehammad Noer Hamid Dg. Massuro (Puang Suro) adalah sekretaris Arung Macege. Petta Lawa menjadi Raja Bone (946-1950)

Foto Asli diambil tahun 1930

(sumber : Andi Baso Ode anak dari sekretaris Arung Macege yaitu Muohammad Noer Dg. Massuro)

Selasa, 31 Mei 2011

10 Ciri Pemimpin Bugis

Seorang Pemimpin harus memiliki 10 ciri antara lain :
Tellabu Essoe ri Tengnga Bitarae

1.Mempunyai watak BUMI, yaitu seorang pemimpin hendaknya mampu melihat jauh ke depan, berwatak murah hati, suka beramal, dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya

2.Mempunyai watak LANGIT, yaitu langit mempunyai keluasan yang tak terbatas hingga mampu menampung apa saja yg datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan pengendalikan diri yang kuat, sehingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam

3.Mempunyai watak BINTANG, yaitu bintang senantiasa mempunyai tempat yang tetap di langit sehingga dapat menjadi pedoman arah (Kompas). Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan rakyat kebanyakan tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

4.Mempunyai watak MATAHARI, yaitu matahari adalah sumber dari segala kehidupan, yang membuat semua mahluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu mendorong dan menumbuhkan daya hidup rakyatnya utk membangun negara dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya dan memamfaatkan cipta, rasa, dan karsanya.

5.Mempunyai watak BULAN, yaitu keberadaan bulan senantiasa menerangi kegelapan malam dan menumbuhkan harapan sejuk yang indah mempesona. Seorang pemimpin hendaknya sanggup dan dapat memberikan dorongan dan mampu membangkitkan semangat rakyatnya, ketika rakyat sedang menderita kesulitan. Ketika rakyatnya sedang susah maka pemimpin harus berada di depan dan ketika rakyatnya senang pemimpin berada di belakang.

6.Mempunyai watak ANGIN, yaitu angin selalu berada disegala tempat tanpa membedakan daratan tinggi dan daratan rendah ataupun ngarai. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyatnya, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, hingga secara langsung mengetahui keadaan & keinginan rakyatnya.

7.Mempunyai watak API, yaitu api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurleburkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan hukum dan kebenaran secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

8.Mempunyai watak TANAH, yaitu tanah merupakan dasar berpijak dan rela dirinya ditumbuhi. Seorang pemimpin harus menjadikan dirinya penyubur kehidupan rakyatnya dan tidak tidur memikirkan kesejahteraan rakyatnya.

9.Mempunyai watak SAMUDRA, yaitu laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yg rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua rakyatnya pada derajat dan martabat yang sama di hatinya. Dengan demikian ia dapat berlaku adil, bijaksana dan penuh kasih sayang terhadap rakyatnya.

10.Mempunyai watak RUMAH, yaitu rumah senantiasa menyiapkan dirinya dijadikan sebagai tempat berteduh baik malam maupun malam. Seorang pemimpin harus memayungi dan melindungi seluruh rakyatnya.
(Sumber : Teluk Bone)

Minggu, 27 Maret 2011

Buku Armada Laut Umawiyyah


Buku wajib ada bg mereka yang meminati sejarah perluasan kuasa Islam yang bermula di Mekah sehinggalah ke kawasan2 lain di Syam, Iraq, Mesir, Afrika Utara, Armenia, Andalus dan lain2. Juga sangat berguna untuk guru2 pendidikan Islam dan calon SPM yg ingin menguasai topic dakwah Islam.

Minggu, 20 Maret 2011

Banyakkanlah menceritakan kebaikan bukan Yang mencacatkan orang lain

Kita wajar mengubah persepsi membaca kisah para sahabat atau apa sahaja yang berkaitan dengan mereka. Apabila kita membicarakan tentang mereka, yang utama adalah menyebut kemulian, jasa dan sumbangan mereka.

Mari kita menghindari satu virus bahaya dalam gaya pembacaan kita. Iaitu virus sikap cenderung membahas aspek negatif atau kekurangan seseorang. Apatah lagi, sasaran bacaan kita adalah para sahabat atau tokoh-tokoh besar. Siapalah kita yang layak menghebahkan lagi keaiban para sahabat khasnya yang sebenarnya mungkin sekelumit jika dibandingkan dengan jasa-jasa mereka yang besar.

Kita boleh bercerita tetatang kejahatan Abu Sufyan. Dia adalah antara tokoh Quraiys yang kuat menentang Rasulullah saw sebelum memeluk Islam. Beliau kemudian dilantik memimpin Kafir Quraiys Makkah selepas ramai ketua mereka terbunuh semasa Perang Badar. Abu Sufyan mengetuai Kafir Quraisy dalam perang Uhud dan Ahzab (Khandaq).

Namun, disebalaik itu beliau memeluk Islam semasa pembukaan Makkah tahun 8 hijrah. Beliau sempat menyertai 2 peperangan semasa hayat Rasul saw iaitu dalam perang Hunayn dan Taif. Semasa dalam perang Taif inilah, beliau telah kehilangan sebelah matanya. Adapun sebelah mata yang satu lagi hilang semasa beliau menyertai Perang Yarmuk. Selepas hilang kedua-dua belah matanya beliau telah mengasingkan diri untuk beribadat sehinggalah meninggal dunia tahun 31 hijrah.

Alangkah baiknya jika kita lebih menyebut pengorbanan Abu Sufyan yang telah turut serta berjuang bersama umat Islam sebaik sahaja beliau memeluk Islam. Beliau berjuang sungguh-sungguh sehingga hilang sebelah matanya semasa perang Taif dan kehilangan sebelah lagi matanya tatkala bersama tentera Islam memerangi Rom dalam perang Yarmuk.

Kita semua mempunyai pilihan untuk cenderung menyebut aspek kebaikan dan positif atau aspek kekurangan dan negatif.

Usaha terpedaya dengan cara musuh-musuh yang berhati kotor, yang cenderung melaung-laung sedidikit kecacatan atau kesilapan mereka. Andainya kesilapan yang cuba diselongkar, maka pasti ditemui. Carilah di atas dunia ini, manusia mana yang tiada kesilapan. Namun, kesilapan mereka adalah sikit, apatah lagi dibanding dengan pengorbanan dan sumbangan mereka yang banyak.

Letakkan sahabat di posisi mereka yang selayaknya. Mereka adalah insan-insan hebat dan luar biasa yang direzekikan untuk sezaman dengan Rasulullah saw dan mendapat tarbiyah secara langsung dari baginda saw.

Kamis, 24 Februari 2011

Selawat vs keluarga Muhammad saw


Kita dimestikan membaca bacaan tasyahhud akhir dalam solat. Dalam bacaan tersebut, kita diminta berselawat ke atas nabi dan keluarga baginda.

Bagaimana ingin berselawat ke atas keluarga baginda, andai kita sendiri pun tidak kenal pada kelurga nabi saw. Buku 'Mari Kenali Keluarga Muhammad saw' sebagai alternatif penyelesaian.

Bacaan Tahiyyat di dalam bahasa rumi:-
Attahiyatul mubarakatuhs-solawatut-taiyibatu lillah. Assalamu'alaika aiyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu'alaina wa'ala ibadillahis salihin. Asy-hadu alla ilaha illallah. Wa-asy-hadu anna Muhammadar rasulullah. Allahumma salli 'ala Muhammad. Wa'ala a-li Muhammad. Kama sollaita 'ala Ibrahim wa'ala a-li Ibrahim. Wabarik 'ala Muhammad wa'ala a-li Muhammad. Kama barakta a'la Ibrahim wa'ala a-li Ibrahim. Fil 'a-lamina innaka hamidummajid
Maksudnya:-
Segala ucapan selamat yang berkat - berkat (berganda - ganda) dan doa yang baik - baik semuanya untuk Allah. Selamat sejahtera atasmu wahai nabi dan Rahmat Allah dan keberkatanNya. Dan selamat sejahtera atas kita dan juga hamba - hamba Allah yang baik - baik. Aku mengaku bahawa tiada Tuhan melainkan Allah. Dan aku mengaku bahawa Muhammad utusan Allah. Ya Allah anugerahkanlah kesejahteraan atas Muhammad dan keluarga Muhammad. Seperti yang Engkau telah anugerahkan kesejahteraan atas Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Dan berkatilah Muhammad dan keluarga Muhammad. Seperti yang Engkau telah berkati Ibrahim dan keluarga Ibrahim Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Tinggi.

Kamis, 27 Januari 2011


Assalamualaikum. al-Hamdulillah buku kedua sejarah saya bakal muncul pada Februari. Semoga karya yang diangkat dari tesis master dan diolah gaya bahasanya ini agar sesuai dengan bacaan umum

Minggu, 16 Januari 2011

Bukan Sebab Ini Aku Ikut Kamu

Seorang lelaki Arab kampong telah datang kepada Rasulullah lalu beriman kepadanya.
Tentera Islam telah memperolehi harta rampasan perang yang banyak semasa perang Khaybar tahun ke 7 hijrah. Kemudian Rasulullah pun membahagi harta rampasan perang tersebut dan lelaki tersebut turut mendapat bahagiannya. Ketika itu dia sedang memelihara kambing. Tatkala dia datang, sahabat pun menyerahkan bahagiannya kepadanya.
Lalu dia bertanya;
“Apakah ini?”
Sahabat pun berkata itulah bahagian dia yang telah diberikan oleh Rasulullah saw. Dia pun mengambil bahagian tersebut lalu membawanya kepada nabi saw.
“Wahai Rasulullah! Apakah ini?” Rasulullah saw pun menjawab.
“Bahagian yang aku berikan untuk kamu” Lelaki itu kemudian berkata;
“Saya mengikut engkau bukan untuk semua ini tetapi untuk saya melontar panah supaya aku gugur dan kemudian dimasukkan Syurga”
Lalu Rasulullah berkata kepadanya;
“Jika kamu benar pada Allah maka Allah akan membenarkan kamu”
Kemudian para sahabat pun bangun untuk berperang menentang musuh. Selepas itu, lelaki ini dibawa kepada Rasulullah saw sedang telah terkorban. Baginda bertanya;
“Adakah dia ini si dia?”
Para sahabat menjawab;
“Benar”
Baginda lantas berkata;
“Dia telah benar kepada Allah maka Allah telah pun benar padanya”
Lalu baginda pun mengkapankannya dan menyembahyangkan jenazahnya. Antara doa yang dibacakan oleh baginda kepadanya;
“Wahai Allah! Ini adalah hambaMu yang telah keluar berjuang di atas jalanMu. Dia telah terkorban sebagai syahid dan aku bersaksi ke atasnya”
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Liputan Sejarah Indonesia Template by Bamz | Publish on Bamz Templates