Jumat, 14 November 2008

Bulan Oktober 1947 mantan Saiko Sikikan Harada dihukum gantung

Sungguh sangat tragis kejadian pada 61 tahun yang lalu ketika pada tahun 1947, Let.Jen Kumakichi Harada (原田熊吉 1888-1947) yang pernah menjadi Panglima Tentara ke 16 (Saiko Sikikan di Jawa)) dihukum gantung di Singapura karena tuduhan "War Criminal" (penjahat perang). Penandatangan Osamu Seirei no.44 (Pembentukan Tentara Sukarela Pembela Tanah Air-PETA) tanggal 3 Oktober 1943 ini memulai karirnya sebagai letnan dua pada tahun 1910 dalam kesatuan infantri ke 44 di Kochi, Jepang. Tahun 1937 menjadi at.mil di Shanghai China dengan pangkat kolonel. Tahun 1940 sebagai komandan Divisi ke 35 di Kaifu China dengan pangkat May.Jen. Kemudian pindah menjadi komandan Divisi ke 27 di Tientsin China. Bulan November Tahun 1942 dia menggantikan Let.Jen Hitoshi Imamura sebagai Panglima Tentara ke 16 di Jawa dengan pangkat Let.Jen. Bulan April 1945 kedudukannya digantikan Let.Jen Nagano dan dia kembali ke Jepang. Pada bulan Mei 1945 sempat diangkat sebagai Panglima Tentara ke 55 kembali di Kochi Jepang lagi. Dia memiliki 1 istri dan 5 orang anak. Ketika ditangkap dan dibawa ke Singapura untuk diadili, istri Harada dan anak-anaknya pernah menulis surat secara memelas kepada Jenderal Mac Arthur agar suami/ayah mereka diberikan keringanan hukuman. Rupanya semua permohonan tersebut ditolak. Lamanya pemerintahan Saiko Sikikan ini di Jawa, amat memberi dampak sejarah Indonesia periode 1942-1945 khususnya dalam rangka lahirnya cikal bakal konstitusi dalam sidang BPUPKI tahun 1945 itu.
Pantaskah kita menghargainya ?. Atau sepakat dengan Mac.Arthur bahwa Harada hanya seorang Penjahat Perang ?

"Palagan" Surabaya 28 – 30 Oktober 1945 (bag 2 habis)

Mobil Malaby yang hancur.

Oleh DAUD SINJAL
Kehancuran total brigade Inggris tertolong oleh gencatan senjata yang disepakati Presiden Soekarno dan Mayjen Hawthorn, 30 Oktober siang. Pelajaran keras itu memaksa Inggris mengakui status TKR dan membatalkan perintah penyerahan senjata laskar dan pemuda. Inggris harus menarik semua pasukannya untuk hanya dipusatkan di Tanjung Perak, lapangan terbang dan kamp tawanan jalan Darmo.
Tapi truce itu tidak berjalan mulus, karena para pemuda pejuang menerimanya dengan pemahaman yang berbeda. Kesalah pahaman ini menyebabkan insiden di Jembatan Merah yang menewaskan Brigadir Mallaby dan membawa akibat pada tindakan balasan Inggris. Mallaby ditembak pada saat bersama anggota-anggota Contact Committee dari Indonesia akan menangani masalah di gedung Internatio.
Dalam gedung itu bertahan satu kompi dari batalyon India, sementara di luar, ratusan pejuang Indonesia mengepung dan menyerukan komandan kompi tersebut, Mayor Venugopal, dan seluruh anak-buahnya keluar untuk menyerah. Pemuda-pemuda nampaknya menafsirkan gencatan senjata bahwa pasukan Inggris, yang memang sudah tersudut, harus mengaku kalah dengan cara meletakkan senjata. Tapi tentara pemenang Perang Dunia ini tidak sudi menyerah, apalagi kepada rakyat biasa.
Di ujung jembatan yang tepat di muka gedung Internatio, Mallaby keluar dari mobilnya dengan memegang bendera putih. Ia tidak diperbolehkan lewat untuk menemui pasukannya di dalam gedung itu. Massa hanya membolehkan anggota Kontak Biro dari Indonesia, Mayjen TKR Mohammad Mangoendiprodjo, dan perwira Inggris yang lebih yunior, Captain H. Shaw.
Kekerasan
Tidak jelas siapa yang memulai membuka tembakan. Tapi Mayor Venugopal memerintahkan untuk menembak. Segera saja pecah baku tembak yang gegap gempita. Pasukan Inggris melontarkan sejumlah granat untuk menghalau massa yang mengepung Mallaby. Diperkirakan 150 orang tewas akibat ledakan granat tersebut. Massa menyingkir. Sementara Mallaby bersama dua kapten dan seorang letnan tiarap di dalam mobil.
Setelah baku tembak mereda, Mallaby mendongakkan kepalanya untuk melihat situasi. Beberapa pemuda mendekati dan melepaskan tembakan-tembakan ke arahnya. Brigjen itu tewas seketika. Sedangkan ketiga perwiranya, yang luka-luka, menyelamatkan diri dengan terjun ke sungai. Pernyataan resmi dari pihak Indonesia mengatakan Mallaby mati akibat ledakan granat di dalam mobilnya sendiri. Sedangkan pihak penyidik Inggris yang memeriksa di tempat kejadian mendapatkan mobilnya masih utuh, tidak ada tanda-tanda bekas ledakan.
Mallaby tewas hanya 5 jam setelah perundingan damai di gubernuran yang ikut dihadirinya.
Drama Jembatan Merah itu berakhir setelah Venugopal bersedia menyerah kepada TKR. Namun Mayjen Mohamad yang sempat dijadikan sandera baru dilepas satu jam setelah seantero tentara Inggris meninggalkan gedung Internatio dengan aman. Radio Surabaya mengumumkan kematian Mallaby dan kemenangan pejuang kemerdekaan. Tapi Jenderal Christison, sama sekali tak bisa menerima hal itu. Pada 31 Oktober, Panglima Sekutu itu menyerukan agar mereka yang tersangkut pembunuhan Mallaby menyerahkan diri.
Ia pun menyatakan akan mengerahkan kekuatan darat, laut, udara dan persenjataan modern yang ada padanya untuk menegakkan hukum dan ketertiban. Bilamana dalam tindakan ini terjadi korban jiwa atau luka-luka, maka tanggung-jawabnya terpulang pada orang-orang Indonesia yang terlibat kejahatan yang telah disebutkannya itu. Christison menegaskan, kekerasan akan dihadapi dengan kekerasan.
Menolak Ultimatum
Sudah nyata Inggris akan menuntut balas. Lagi pula ada 12.000 interniran, kebanyakan perempuan dan anak-anak, masih tertahan di kota. Sementara 20 ribu tentara dan laskar Indonesia masih intact. Belum lagi 120.000 rakyat dan pemudanya yang bersenjatakan tombak dan parang. Dalam tiga hari, kekuatan Inggris di Surabaya dijadikan satu divisi lengkap. Divisi India ke-5 itu didukung unsur angkatan laut dan udara. Sebuah kapal penjelajah "Sussex", tiga destroyer, "Caesar", "Carron" dan "Cavalier", serta kapal bendera "Bulolo" bersiaga di perairan Tanjung Perak. Juga didatangkan delapan pembom Thunderbolts dan dua penyergap Mosquitoes.
Panglima divisi tersebut, Mayjen Mansergh, yang juga adalah Panglima AD Sekutu di Jawa Timur menyalahkan para pemimpin Indonesia atas kerusuhan yang merenggut banyak nyawa itu. Dengan dalih Surabaya telah diduduki oleh perampok dan bahwa pihak Indonesia menghambat misi Sekutu, maka tentara Inggris akan memasuki kota Surabaya dan daerah sekitarnya untuk melucuti "gerombolan yang tidak mengenal tertib hukum".
Gubernur Jawa Timur (Jatim), Suryo, memperingatkan Mansergh, agar tentaranya jangan mencoba masuk ke kota, karena akan berdampak buruk bagi ketentraman dan ketertiban. Tapi peringatan gubernur Jatim itu dijawab Mansergh dengan pamflet ultimatum yang disebarkan dari udara. Intinya, semua pemimpin Indonesia, termasuk pemimpin pemuda, kepala polisi dan pimpinan Radio Surabaya harus melaporkan diri di Batavia-weg mulai jam 18.00 tanggal 9 November. Mereka harus membawa senjata yang dimilikinya. dan meletakkannya pada jarak 100 yard dari tempat pertemuan.
Lalu mereka harus mendekat dengan kedua tangan di atas kepala, selanjutnya semua akan ditangkap dan ditawan. Mereka harus menandatangani dokumen menyerah tanpa syarat. Gubernur Suryo, melalui radio Pk. 23.00, dengan tegas menolak ultimatum itu. Tidak satu pun pejuang yang muncul untuk memenuhi perintah Mansergh.
Pukul 06.00, 10 November 1945. Ketika batas waktu habis, divisi tempur Inggris memasuki kota Surabaya yang serta merta disambut perlawanan sengit dari TKR dan pejuang RI yang bersenjata senapan mesin, mortir, tank dan meriam artileri. Thunderbolts dan Mosquitos Inggris melakukan strafing ke sasaran gedung-gedung yang dijadikan kubu pertahanan Indonesia. Inggris menguasai Surabaya setelah pertempuran sengit "dari pintu ke pintu dan lorong ke lorong".
Pasukan Indonesia mengundurkan diri dan membangun pusat-pusat perlawanan di luar kota. Peristiwa 10 November di Surabaya ini kemudian diperingati oleh bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.

Dikutip dari "Menjadi TNI", buku biografi Himawan Soetanto yang tengah disusun penulis.

Kami mengucapkan Selamat atas Ditetapkannya oleh Pemerintah pada tanggal 6 November 2008 dengan kep.Pres no.041/TK/th 2008, "Bung Tomo" menjadi Pahlawan Nasional.....M E R D E K A

Kamis, 13 November 2008

Daendels tiba di Jawa

Oleh Djoko Marihandono
Herman Willem Daendels memulai jabatan sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat dia menapak Pulau Jawa, tanggal 1 Januari 1808 dengan menumpang kapal Virginia. Perjalanan panjang ditempuh Daendels dari Eropa menuju Jawa mengingat kala itu lautan sudah dikuasai angkatan laut Kerajaan Inggris yang maha kuasa semasa Perang Napoleon berkecamuk di Eropa, Afrika dan Asia. Sejarawan Djoko Marihandono yang mengadakan penelitian tentang Daendels dan Hindia Belanda di bawah kekuasaan Prancis menjelaskan, dalam diskusi terbatas di Harian Kompas, betapa Daendels harus kucing-kucingan untuk menempuh perjalanan berbahaya dari Eropa tanggal 18 Februari 1807. Dia sempat menghadap Napoleon Bonaparte di Paris untuk menyampaikan usulan kebijakan yang akan diterapkan di Hindia Timur (Nusantara). Kala itu, Belanda yang beralih sistem menjadi Republik Bataaf (1795-1806) kemudian diduduki Prancis yang menetapkan Louis Napoleon (orang Belanda menyebut sebagai Lodewijk Napoleon-red) untuk memimpin Belanda sebagai wilayah Prancis. Daendels mendapat promosi kenaikan pangkat dari Kolonel Jenderal menjadi Marsekal, kata Djoko.
Daendels memiliki kewenangan luas yakni dari Tanjung Harapan di Afrika Selatan hingga ke Hindia Timur (Nusantara-red ). Namun, pada kenyataan, kala itu-tahun 1808- kekuasaan Napoleon di Afrika Selatan dan Nusantara hanya tersisa di Pulau Jawa.
Perjalanan Daendels memakan waktu 10 bulan. Dia pergi ke pelabuhan Bordeaux, tetapi laut sudah diblokade Inggris sehingga harus mencari alternatif ke Lisabon di Portugal. Lagi-lagi dia menghadapi kondisi serupa yakni blokade laut Inggris.
Pramoedya Ananta Toer mencatat dalam Jalan Pos Jalan Daendels, betapa Daendels harus menyaru dan memalsukan identitas agar dapat meloloskan diri dari Eropa menuju Jawa.
Akhirnya Daendels meninggalkan Portugal dan tiba di Maroko. Ketika itu, Maroko baru saja menyetujui perjanjian damai dengan Eropa untuk mengakhiri perdagangan budak bangsa Eropa (Giles Milton, White Gold). Salah satu panglima angkatan laut Inggris yang memaksa penguasa Maroko dan Aljazair mengakhiri perbudakan bangsa kulit putih adalah Laksamana Thomas Pellew yang juga pernah memblokade Batavia dan membombardir Pulau Onrust (catatan dalam White Gold dan pameran VOC di Erasmus Huis, 2008).
Di Maroko, Daendels sempat dirampok bajak laut sehingga kehilangan semua dokumen. Dia meloloskan diri ke Kepulauan Kanari di lepas pantai barat Afrika-kini wilayah Spanyol-untuk mencari kapal ke Asia. Djoko mencatat, di Pulau Kanari, Daendels berhasil menyewa kapal Amerika, Virginia yang mengantarnya menyelinap ke Pulau Jawa.

Selasa, 11 November 2008

Kuching ooo Kuching

Al-hamdulillah saya selamat sampai di Kuching dan menyampaikan hajat kawan di sana. Perjalanan saya ke Kuching Sarawak bermula apabila Us Zaini Hasbollah menjemput saya menyampaikan ceramah Kursus Penulisan Dakwah Peringkat Negeri Sarawak 2008 di Hotel Penview, Kuching bertarikh 10 dan 11 November.
Maka petang Isnin 10 hb saya pun bertolak dari KLIA ke Kuching menaiki pesawat 737 MAS bernombor MH 2718. Selepas 1 jam 3/4 perjalanan saya pun tiba di AirportKuching buat pertama kali dalam hidup saya. Ustaz Suyuti telah bersedia menunggu saya di sana dan terus membawa saya ke hotel tersebut. Selepas menjamu sedikit makanan saya terus menyampaikan slot pertama saya di hadapan kawan2 yang telah bersedia menunggu ketibaan saya. Saat itu rasa letih saya hilang sama sekali kerana mereka kelihatan begitu semangat. Muka-muka mereka umpama saya doakan akan menjadi penulis2 terkenal seperti A Samad Said, Shahnon, Ariwati dll. Mereka adalah bakal2 penulis yang akan dilahirkan dari Sarawak.
Esoknya saya menyambung slot kedua saya selama lebih 2 jam, namun saya melihat mereka terus bersemangat dengan cabaran baru yang bakal mereka lalui nanti. Selesai berceramah saya bersedia untuk kembali ke Semenanjung pada jam 2.25 ptg 11 hb.
Saya sempat dibawa bersiar-siar oleh kawan2 yang sudah berbelas tahun menghuni bumi Boeneo ini. Ust Zakaria (Pak Ya) guru SK Gersik, Kuching dan Norhanizam guru Sk Pulo, Kuching menjadi teman rihlat 2 jam saya di sekitar Kuching.
Saya dibawa ke Pasar Satok untuk memborong ikan TERUBOK dan BELACAN BINTULU. Inilah antara buat tangan special dari Kuching yang saya bawa balik. Saya juga sempat memborong KEK LAPIS di kedai Dayang Salhah. Pening saya melihat bermacam-macam kek lapis yang ada, kek lapis Coklat cheese, lapis kopi, lapis sutera Dubai, lapis alunan ombak. lapis batik kenyalang, lapis batik jasmine, lapis hati pari, lapis mami jarum, lapis swiss roll, lapis sisik ikan dll. Pening...pening.
Pak Ya sempat menjamu saya makan tengahari TOMYAM di sebuah kedai melayu di Kuching.
Jam 1.55, saya sampai ke Air port Kuching untuk menaiki pesawat MH 2515 menuju ke KLIA.
Syukran jazilan atas layanan sahabat2 di Kuching khas buat Us. Zaini Hasbollah, Pak Ya (Us. Zakaria), Us. Norhanizam, Us. Suyuti, Us. Rosli Sulaiman (SMK Simanggang, Sri Aman), Us. Awang Arifin Awang Kamarudin (Penyelia Pendidikan Islam PPG Kuching) dan semua peserta kursus.
Semoga kita bertemu lagi, Syukran jazilan buat semua...

Minggu, 09 November 2008

Sejarah ke Kuching...

Semuanya adalah Al-hamdulillah. Sebaik sahaja saya dijemput berkongsi idea penulisan di Beach Resort Pord Dickson pada 28-29 Oktober 2008, saya sekali lagi dijemput untuk 'sharing' topik yang sama dan kali ini destinasi saya agak jauh iaitu di Kuching Sarawak.

Maka jam 6.30 ptg hari ini 10 November 2008 Insyallah buat pertama kali dengan izin Allah saya akan sampai ke bumi Kepulauan Borneo yang akan memakan masa 1 jam 3/4 minit perjalanan menaiki kapal MAS MH 2718. Mudah-mudahan semuanya selamat.

Buat teman-teman di Sarawak semoga malam kita dapat bertemu dan sama-sama berkongsi idea dalam diskusi kita "Menggarap Idea Penulisan".

Barbar...reformasi

Kepada pembaca sejarah di Afrika utara, untuk kita memahami iklim tersebut kita mesti membaca sejarah berkaitan Barbar. Antara konflik besar yang berlaku zaman Kerajaan Umayyah selain pembunuhan Husin b. Ali di Karbala', kemunculan Ibn Zubayr, isu Hajjaj di Iraq maka reformasi Barbar tahun 122H merupakan salah satu topik penting dan menarik.

REFORMASI BARBAR

Perluasan kuasa Islam memerlukan tempoh yang lebih panjang di Afrika Utara berbanding Iraq, Syam dan Mesir. Tentera Islam mengambil masa lebih 60 tahun untuk membuka kawasan Afrika Utara. Antara cabaran utama tentera Islam semasa dalam usaha perluasan kuasa Islam di sana atau selepas kejayaan membukanya ialah berhadapan dengan puak Barbar.Selepas tentera Islam berjaya membuka Afrika Utara, puak Barbar yang merupakan penduduk asal Afrika telah menghadapi polisi pemerintahan yang berbeza di kalanngan gabenor-gabenor Afrika sama ada menikmati keadilan atau sebaliknya kezaliman.

Sebagai contoh pada zaman Muhammad b. Yazid menjadi gabenor Afrika, keadaan di Afrika begitu aman dan sepanjang tempoh pentadbirannya Barbar menikmati pentadbiran yang adil serta saksama. Sehinggakan polisi pentadbiran Muhammad b. Yazid yang berhikmah berjaya membawa pengislaman puak Barbar. Begitu juga ketika zaman Ismacil b. cAbd Allah b. Abu al-Muhajir yang dilantik menjadi gabenor Afrika oleh Khalifah cUmar b. cAbd al-cal-Aziz, ahli sejarah bersepakat mengatakan seluruh puak Barbar telah memeluk Islam ketika itu. Bahkan Khalifah cUmar b. cAbd al-cal-Aziz telah menghantar 10 Tabi’in untuk mengajar Islam kepada puak Barbar tersebut.

Namun, sebaik Yazid b. cAbd al-Malik dilantik menjawat jawatan khalifah menggantikan cUmar b. cAbd al-cal-Aziz, beliau telah melucutkan jawatan Ismacil b. cAbd Allah b. Abu al-Muhajir lalu melantik Yazid b. Abu Muslim yang merupakan pembantu Hajjaj b. Yusuf al-Thaqafi. Yazid b. Abu Muslim kemudian telah menggunakan polisi yang keras ke atas Barbar sebagaimana yang dilakukan oleh Hajjaj b. Yusuf di Iraq yang akhirnya membawa kepada pembunuhannya. Selepas itu, Bishr b. Safwan al-Kalbi yang dilantik menjadi gabebor Afrika berjaya mengembalikan ketenteraman yang dicetuskan oleh Barbar.

Namun demikian, selepas itu puak Barbar kembali menerima polisi yang keras oleh pemerintah Islam di Afrika Utara dan pada waktu yang sama kumpulan Khawarij telah ramai yang memasuki Afrika Utara kerana jauhnya tempat tersebut dari pusat pemerintahan Islam. Mereka kemudian telah menyerap masuk ke dalam puak Barbar dan menyebarkan fahaman mereka seperti tuntutan hak sama rata antara mereka dan Arab serta reformasi menentang kezaliman. Akhirnya pada tahun 122H/739 Barbar telah bangkit menentang pemerintah Islam di Afrika Utara yang ketika itu di bawah pimpinan cUbayd Allah b. al-Habhab di saat ramai tentera Islam sedang keluar berjihad di Pulau Sicily. Reformasi yang dilancarkan oleh Barbar dan kejayaan mereka membunuh peminpin Islam di Tanjah (Tangier) telah menggugat keamanan Afrika sehingga gabenor terpaksa memanggil balik tentera Islam yang sedang berjihad di Pulau Sicily yang diketuai oleh Habib b. Abu cUbaydah b. cUqbah b. Naficuntuk bersatu menghadapi Barbar. Gabenor Afrika sendiri turut menyiapkan pasukan tentera dari al-Qayrawan tetapi malangnya kemenanagan berpihak kepada Barbar.

Khalifah Hisham b. cAbd al-Malik kemudian telah melantik Kalthum b. cIyad al-Qushayri[1] untuk menggantikan cUbayd Allah b. al-Habhab untuk menghadapi Barbar tetapi tentera Islam sekali gagal dalam pertempuran yang berlaku pada tahun 124H/741 yang membawa kepada syahidnya dua orang tokoh besar iaitu Kalthum b. cIyad al-Qushayri dan Habib b. Abu cUbaydah. Hanzalah b. Safwan yang kemudian dilantik menjadi gabenor Afrika telah berjaya mengalahkan puak Khawarij dan Barbar. Polisi Hanzalah b. Safwan yang adil mengakibatkan keadaan di Afrika Utara kembali aman dan stabil. Namun demikian, keadaan tersebut hanya buat seketika waktu kerana Barbar kembali melancarkan reformasi pada zaman cAbd al-Rahman b. Habib yang dilantik menjadi gabenor Afrika Utara tahun 127H/744 menggantikan Hanzalah b. Safwan.



Minggu, 02 November 2008

Nabi Musa pun pergi ke Bukit Tursina untuk mencari....

Kenapa ramai orang Islam yang mendedah aurat? Belum datang seru lagi. Mengapa tak pergi haji lagi? Belu datang seru. Kenapa tak mahu pergi solat berjemaah di masjid bang? Saya belum dapat seru lagi.
Banyak contoh yang kita biasa dengar dengan jawapan ini. Baru-baru ini saya pun bertemu lagi insiden seperti ini. Kerana rasa nak betulkan keadaan dan kebetulan mad'u saya kali ini jenis yang sedia pasang telinga maka saya pun berdakwahlah padanya.
Bang! kita mengaku jadi rakyat Malaysia tanpa dipaksa orang, mestikah kita ikut peraturan negara kita? Ehhh...mestilah ustaz. Kalau tak mahu ikut undang2 negara kita, jangan jadi rakyat Malaysia. Bukan ada orang paksa2 kita nak berwarganegarakan Malaysia.

Begitulah juga Islam bang. Tak ada orang paksa kita masuk Islam kan! Tetapi jika kita dah masuk dengan sukarela maka kita kenalah ikut segala peraturannya. Tak perlulah beralasan 'tak ada seru lagi' lah. Kita tidak dipaksa masuk Islam tetapi kalau kita dah rela masuk Islam kita mesti paksa diri kita ikut Islam. Kena tutup aurat, kena tunai haji, kena tunai solat.
Kitalah pergi cari, bukan tunggu seru.
Nabi Musa pergi mencari...naik bukit Tursina selama 40 hari. Rasulullah pergi mencari...3 tahun berkhalwat di gua hira'. Kita kenalah cari...Tak perlulah panjat Bukit Tursina lagi atau Gua Hira' tetapi khalwat itu dengan cara iktikaf di masjid, 40 hari pergi tunaikan haji.
Hidup ini adalah satu pencarian mencari redha Tuhan, bukan hanya menunggu2 bila tibanya seru.
◄ New Post Old Post ►
 

Copyright 2012 Liputan Sejarah Indonesia Template by Bamz | Publish on Bamz Templates